Tradisi Budaya Ngopi Masyarakat Indonesia  

Tradisi Budaya Ngopi Masyarakat Indonesia   

Kopi telah menjadi salah satu teman penduduk Indonesia. Dari muda ke tua. Dari pria ke wanita. Selain sebagai teman obrolan, kopi juga menjadi budaya di berbagai daerah. Harga kopinya sangat murah. Mulai dari Rp3 ribu hingga Rp10 ribu. Seperti apa budaya kopi di berbagai daerah di Indonesia? Medan dikenal sebagai kota dengan budaya kopi yang sangat kental. Di sana, kebiasaan minum kopi di warung kopi dimulai dari pagi hingga siang hari. Jenis kopi olahan juga bervariasi. Mulai dari kopi susu, kopi diseduh, hingga kopi talua yang merupakan ciri khas lapangan. Kopi talua sendiri adalah kopi yang dicampur telur. Rasanya sangat enak. Di sana, Anda akan bertemu banyak orang dan tentu saja Anda akan menemukan teman obrolan baru. Pasalnya, dalam satu kios ada puluhan meja di setiap meja hingga 6-7 orang. Di Medan, roti bakar srikaya menjadi lauk yang selalu ada di setiap kedai kopi.

Kota Serambi Mekah alias Aceh juga memiliki tradisi kopi yang sangat kental. Bahkan sejak penjajahan Belanda. Tidak hanya menjual kopi dan kopi susu, ada dua jenis kopi yang sangat khas di Aceh. Yaitu Sanger coffee dan Khop coffee. Kopi Sanger sendiri adalah jenis kopi olahan dengan susu dan gula yang dikocok hingga berbusa. Bedanya dengan kopi susu biasa, kopi sanger memiliki komposisi susu dan gula yang kecil. Sehingga memunculkan aroma nikmat dan rasa kopi yang tidak kalah dengan susu. Sedangkan Khop Coffee adalah jenis minum kopi dengan cagkir terbalik. Umumnya ada di daerah pantai karena jika terbuka kopi akan cepat dingin. Nah, untuk pelengkap, biasanya setiap warung akan menyediakan makanan ringan manis seperti kue adee dan penjualan pisang.

Baca Juga : Berbagai Macam Festival Kebudayaan Lokal

Salah satu hal paling unik tentang budaya kopi di Yogyakarta adalah kehadiran angkringan setiap malam. Budaya kopi di Yogyakarta identik pada malam hari. Tak lama setelah shalat Maghrib selesai. Berbagai jenis kopi mulai dari kopi racik hingga kopi instan selalu ada di setiap angkringan. Dan satu hal lagi, beberapa angkringan juga menjual kopi Jos yaitu kopi hitam yang diberi pembakaran arang. Nama kopi jos berasal dari suara "jos" ketika arang dimasukkan ke dalam kopi. Yang selalu ada di angkringan selain kopi adalah sate. Berbagai jenis sate mulai dari sate usus, hati, gizzard, kepala, cakar, bakso, hingga baceman selalu ada. Nah, kalau mau sedikit kenyang, pengunjung bisa membeli nasi kucing yang mengandung olahan teri atau tempe dan sambal. Semua makanan ini akan hangus untuk sementara waktu untuk pemanasan.

Sekarang di Surabaya, budaya kopi penuh dengan makanan goreng dan rokok. Warung kopi di Surabaya sendiri selalu buka mulai siang hingga dini hari. Tapi, tidak jarang ada juga yang buka hingga 24 jam. Umumnya, warung kopi di Surabaya menyajikan makanan goreng asin dan gurih seperti isi tahu, bakwan / ote-ote, tempe goreng, dan ubi goreng. Hal yang membuat kedai kopi di Surabaya selalu ramai adalah suasana hangat saat mengobrol bersama. Baik dengan teman atau orang baru, ekonomi rendah, menengah, dan di atas semuanya bercampur menjadi satu di toko yang umumnya dikonsep seperti mini bar dengan beberapa meja di sekitarnya.