Peristiwa Haymarket hingga Tercetus Hari Buruh 1 Mei  

Peristiwa Haymarket hingga Tercetus Hari Buruh 1 Mei   

Setelah peristiwa di Haymarket yang dilakukan buruh menuntut hak bekerja, Kongres Sosialis Internasional II menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh atau May Day.

Tanggal 1 Mei setiap tahunnya, masyarakat dunia memperingati Hari Buruh atau May Day. Hari buruh diperingati sebagai bentuk upaya untuk merayakan hak-hak para pekerja. Biasanya pula, peringatan Hari buruh dilakukan dengan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya.

Lalu, bagaimana sejarah diperingatinya Hari Buruh ini?

Hal tersebut berawal dari sebuah aksi kericuhan di Haymarket, Amerika Seritkat. Di mana, pada 1 Mei 1886, ratusan ribu lebih buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi delapan jam sehari.

Aksi yang berlangsung selama empat hari, atau tepatnya hingga 4 Mei 1886 ini merupakan buntut dari banyaknya perusahaan yang memaksa buruh untuk bekerja 18 jam sehari. Selain itu, pekerja yang tidak sesuai dengan aturan jam kerja akan dipotong upahnya.

Sebelumnya, pada tahun 1880-an, tidak sedikit dari para buruh yang sudah memikirnya perlunya mempersingkat waktu bekerja tanpa adanya pemotongan upah. Namun, baru di tahun 1880-an para buruh terorganisir dan mampu mengumpulkan cukup kekuatan untuk menuntut hak bekerja.

Saat itu, demonstrasi berlangsung damai. Hingga pada 3 Mei, para polisi bentrok dengan para buruh di McCormick Reapers Works. Keesokan harinya, atau pada 4 Mei, sebuah demontrasi direncanakan di Lapangan Haymarket untuk memprotes para polisi yang telah melukai para buruh.

Tragedi berdampak luas. Pada 1889, diselenggarakan Kongres Sosialis Internasional I di Paris setelah adanya proposal dari Raymond Lavigne untuk memperingati peristiwa tersebut. Namun, penetapan Hari Buruh baru secara resmi diputuskan saat Kongres Sosialis Internasional II pada 1891. 

Peringatan Hari Buruh di Indonesia

Di Indonesia sendiri, peringatan Hari Buruh berlangsung setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Di bawah kabinet Syahrir pada Mei 1946, peringatan hari buruh boleh dilakukan bahkan dianjurkan oleh Menteri Sosial (Mensos) Maria Ulfah.

Mensos juga meminta agar perusahaan tetap membayar gaji pada para buruh yang memperingati May Day. Peringatan hari buruh yang terus berlanjut hingga 1 Mei 1950 ini, para buruh mengajukan tuntutan Tunjangan Hari Raya (THR).

Hingga pada 1954, pemerintah melahirkan Peraturan tentang Persekot Hari Raya, Surat Edaran Nomor 3676/1954 tentang Hadiah Lebaran dan Permen No. 1/1961 yang menetapkan THR sebagai hak buruh. Sejak saat itu, THR bisa dinikmati oleh seluruh buruh hingga saat ini.

Namun, sepanjang masa orde baru, peringatan hari buruh dilarang. Hari buruh diidentikkan dengan muatan paham komunis. Namun, setelah masa orde baru berakhir, gerakan serikat buruh mulai bermunculan. Lahirnya gerakan serikat buruh didukung dengan ratifikasi konvensi ILO nomor 81 tentang kebebasan berserikat bagi buruh era kepemimpinan Presiden BJ Habibie.